Kuliner, CITYTOURMANADO.COM
Senja baru saja turun di sebuah desa kecil di perbukitan Tomohon. Namaku Adi, seorang pengelana rasa yang sengaja datang untuk menjawab satu pertanyaan: mengapa sebuah hidangan bisa menjadi legenda sekaligus kontroversi. Di hadapanku, di atas meja kayu yang usang, tersaji semangkuk hidangan yang membuat kuliner ekstrem Sulawesi Utara ini begitu tersohor: Paniki khas Minahasa.
“Jangan hanya dilihat, Nak. Makanan itu untuk dirasakan dan dipahami,” suara Opa Jopie memecah lamunanku. Beliau adalah penjaga resep warisan yang kutemui di Pasar Tomohon pagi tadi, di antara riuh pedagang yang menjajakan hasil bumi dan, tentu saja, daging kelelawar yang sudah dibersihkan.
Perjalanan rasa ini dimulai bukan saat aku menyendoknya, tapi saat Opa Jopie membawaku ke dapurnya yang sederhana. Di sanalah “ulasan fitur” hidangan ini dimulai. Fitur pertama adalah bahan baku. “Kami hanya pakai kelelawar pemakan buah,” jelas Opa Jopie sambil menunjuk daging yang sudah siap olah. “Dagingnya lebih manis dan bersih.”
Fitur kedua adalah prosesnya. Aku menyaksikan bagaimana jemari keriputnya dengan lincah meracik bumbu rica-rica yang menjadi jantung dari resep Paniki ini. Aroma jahe, serai, dan cabai rawit yang diulek kasar langsung memenuhi udara. Ini bukan sekadar memasak; ini adalah sebuah ritual. “Paniki itu harus dimasak lama dengan santan, sampai bumbunya meresap ke tulang,” katanya. Proses inilah yang mengubah bahan ekstrem menjadi sebuah mahakarya rasa.
Di tengah kepulan asap dapur, dialektika pun dimulai. Aku, sebagai representasi orang luar, membawa pertanyaan modern. “Opa, banyak yang khawatir. Apakah berburu kelelawar ini tidak mengancam kelestarian alam?”
Opa Jopie terdiam sejenak, tatapannya menerawang ke api tungku. Inilah dialog antara tradisi dan masa depan. “Nenek moyang kami mengajarkan untuk menghormati alam,” jawabnya pelan. “Kami mengambil secukupnya. Tapi zaman berubah, kami pun belajar.” Beliau bercerita tentang aturan baru, tentang pentingnya konservasi satwa liar yang kini mulai dipahami para pemburu muda. Sebuah sintesis pun tercipta: tradisi kuliner bisa berjalan beriringan dengan tanggung jawab ekologis.
Dialektika lainnya adalah tentang rasa itu sendiri. Di satu sisi, ada rasa takut dan stigma terhadap bahan utamanya. Di sisi lain, ada janji kelezatan yang luar biasa. Konon, ada juga manfaat daging kelelawar yang dipercaya turun-temurun untuk mengobati asma.
Kini, hidangan itu di hadapanku. Dagingnya yang hitam legam berpadu dengan bumbu kemerahan yang kental. Aroma pedas dan gurihnya begitu kuat. Keraguan bertarung dengan rasa penasaran. Suapan pertama adalah jawabannya. Rasa pedas yang meledak langsung diredam oleh gurihnya santan. Dagingnya empuk, dengan tekstur unik yang tak bisa kutemukan di tempat lain. Stigma itu runtuh seketika, digantikan oleh kekaguman.
Malam itu aku mengerti. Wisata kuliner Manado bukan hanya tentang mencicipi makanan khas Manado yang lezat. Ini tentang memahami sebuah cerita, sebuah filosofi, dan dialog yang terus hidup. Paniki bukanlah sekadar hidangan di atas piring; ia adalah percakapan abadi antara manusia, alam, rasa, dan waktu. Dan malam itu, aku menjadi bagian dari percakapan tersebut.

